Dalam suasana yang khidmat dan penuh rasa kebersamaan, Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya ( AMAN JAYA )menggelar prosesi serah terima jabatan (Sertijab) Angkatan 68 yang berlangsung dengan tertib dan penuh makna di halaman kampus bilangan Kelapa Gading, Jakarta ini. ( 10/06/25)
Acara ini menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi kemahasiswaan, karena menandai beralihnya tongkat estafet kepemimpinan dari pengurus sebelumnya kepada generasi penerus yang akan melanjutkan berbagai program, visi, serta cita-cita yang telah dibangun bersama.
Prosesi sertijab tersebut disaksikan oleh seluruh civitas akademika, mulai dari jajaran pimpinan akademi, para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa dari berbagai angkatan. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan sekaligus penghormatan terhadap proses regenerasi kepemimpinan yang merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter dan mental kepemimpinan para taruna dan taruni. Suasana haru, bangga, dan penuh harapan begitu terasa ketika simbol-simbol kepemimpinan secara resmi diserahkan kepada pemimpin baru.
Dalam prosesi yang berlangsung dengan penuh khidmat tersebut, tanggung jawab kepemimpinan Angkatan 68 secara resmi diestafetkan dari Gearen Fatah Firgenola kepada Bapak Bagas Raditya Putra.

Amanah yang diberikan bukan hanya sebuah jabatan, tetapi juga tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan, memperkuat solidaritas, serta mengarahkan seluruh anggota angkatan menuju berbagai pencapaian yang lebih baik. Dengan semangat muda yang dimiliki, kepemimpinan baru diharapkan mampu menghadirkan inovasi, mempererat kekompakan, serta menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan prestasi.
Upacara serah terima jabatan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai disiplin, integritas, loyalitas, tanggung jawab, dan semangat pengabdian menjadi fondasi yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Setiap pemimpin memiliki tantangan zamannya masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar kepemimpinan yang baik akan selalu menjadi pedoman dalam menjalankan amanah.
Para pemimpin baru Angkatan 68 diharapkan mampu menanamkan budaya kerja yang positif, membangun komunikasi yang harmonis, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya rasa saling menghormati dan saling mendukung antar sesama mahasiswa.
Kepemimpinan yang kuat tidak lahir dari kewenangan semata, melainkan dari kemampuan untuk mendengar, memahami, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama. Oleh karena itu, semangat kolaborasi dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan yang akan datang.
Sebagai institusi pendidikan maritim yang berkomitmen mencetak sumber daya manusia unggul, Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya terus mendorong para mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan sejak dini. Melalui momentum sertijab ini, diharapkan lahir generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, etika yang baik, serta kemampuan untuk mengambil keputusan secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Dengan ketegasan dalam mengambil keputusan, keberanian menghadapi tantangan, serta semangat untuk selalu hadir dan mendampingi anggotanya, Angkatan 68 optimistis dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan akademi. Semangat pengabdian dan rasa memiliki terhadap almamater menjadi bekal penting dalam menjalankan setiap program kerja yang telah dirancang demi kemajuan bersama.

Menutup rangkaian acara tersebut, Direktur Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya, Bapak Samiyono, S.E., M.Si., M.Tr.Opsla., menyampaikan pesan yang sarat makna kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses pembelajaran yang tidak pernah berhenti. Seorang pemimpin harus mampu menjadi contoh, menjaga integritas, serta mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Beliau juga mengingatkan bahwa setiap amanah yang diberikan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Menurutnya, keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain dan lingkungan sekitarnya. ( Humas AMAN JAYA )